Cerita
Realita Remaja
Tahap pengenalan
tokoh
Sari : Baik tapi bukan cewe setia alias tukang
ganti pasangan
Desi : Baik, tipe cewe yang Setia pada
pasangannya, sabar.
Riski : Pemarah, gampang cemburu, dan suka ngatur
Arif : Terlalu baik hingga gampang dimanfaatkan,
setia, dan telmi, sedikit nakal.
Judul : kesabaran menuai berkah, karena cintalah aku
berubah.
Pasti pada tau kan gimana anak remaja
jaman sekarang? Remaja yang berbeda kehidupan tidak seperti jaman remaja
dahulu.
Langkah awal mulanya sicewe tersebut sama sekali tidak pernah merasa bahwa ia
mencintai cowo yang dimaksud tersebut. Nah bisa saya ceritakan secara rinci
awal perkenalannya sicewe dan sicowo tersebut.
Alkisah Ada 2 seorang sahabat perempuan, dan 2 sahabat laki
laki yang keduanya tersebut sudah mengenal sejak kecil. 2 orang sahabat perempuan tersebut namanya
Sari dan Desi. Dan 2 sahabat laki laki itu bernama risky dan Arif.
Awal mulanya 2 orang sahabat perempuan dan 2 orang sahabat
laki laki itu tidak saling mengenal satu sama lain, pengenalan itu terjadi di
media social. Siapa sih yang gatau media social/ jejaring social yang biasa
diakses oleh semua kalangan remaja bukan hanya kalangan remaja saja yang bisa
mengaksesnya bahkan sudah mendunia mulai dari usia remaja maupun dewasa.
Nah dari jejaring social media tersebut Sari dan risky
berkenalan dan menjelang proses yang sering disebut PDKT itu loh. Makin lama
ternyata mereka sudah menjalin kasih, sekiranya 2 bulan lamanya. Pasangan
tersebut terhalang oleh jarak makanya mereka berkomunikasi hanya melalui via telephone
saja. Seiring berjalannya waktu karna telephone menjadi kebiasaan pasangan
mereka berdua, dan pada akhirnya si risky mengajak temannya untuk bermain
kerumahnya. Tiba tiba si risky menelpon pacarnya yang bernama sari (berbicara
lamanya) “selang beberapa jam kemudian datanglah temannya Sari tersebut (dalam
keadaan masih telephone dan masih ada temannya).
“sari pun berkata kepada desi”
Sari : Des bentar nih tolong pegangin hp gue dong
bentar, gue mau ketoilet dulu. Kalo mau
telephone’nan sama cowo gue gpp, bilang aja gue
lagi ketoilet
Desi : oke.
Sari pun pergi meninggalkan desi.
Desi : hallo.
Risky : iya hallo.
Desi : ini gue temennya sari, sarinya lagi
ketoilet bentar.
Risky : “berbicara pada temannya” rif lu aja nih
yang ngomong, gua mau makan dulu laper.
Arif : itu siapa gue aja gakenal.
Risky : ya kenalan lah! “nada tinggi”
Desi : Hallo, ada orang disana?”
Risky bergegas meninggalkan arif
Kemudian Desi berbicara.
Hari pertama mereka
berbicara dan berkenalan lewat telepon
Desi : hallo, tidak ada yang menjawab?
Arif : iya?
Arif disini sebagai cowo yang pendiam dan bisa dibilang cowo
irit kalau untuk berbicara dengan lawan jenisnya
Desi : Loh kok suaranya beda? Ini Risky bukan?
Arif : bukan, gue arif temannya risky. Risky nya
lagi makan
Desi : Oh bilang dong dari tadi, btw lo temennya
Risky darimana?
Arif : gue temennya satu sekolah, lo sendiri.
Desi : oh kalau gue bukan, Sari temen gue sejak
kecil. Ini gue pulang sekolah sempet sempetin dulu
Buat mampir kerumah Sari. Oh yaudah nih sari udah ada disebelah gue hpnya mau gue kembaliin.
Buat mampir kerumah Sari. Oh yaudah nih sari udah ada disebelah gue hpnya mau gue kembaliin.
Arif : yaudah.
Kemudian Sari dan
Risky pun lanjut untuk berbicara.
Hari Kedua
Risky segera
menelpon sari.
Risky : Tut….tut….tut (telepon terhubung)
Sari : Hallo ky?
Risky : Lagi apa cha? (cha : panggilan sayang risky
untuk sari)
Sari : baru aja pulang sekolah, lu sendiri?
Risky : Lagi dijalan arah pulang, bentar ya cha gue
lagi bawa motor. Ntar gue telpon lagi.
Sari : oke. (telepon pun mati)
Risky pun berjalan
menuju arah pulang, dan seketika dia bertemu dengan temannya yang bernama Arif.
Risky : weh dari mana lo?
Arif : baru balik sekolah nih.
Risky : gue mau pulang kerumah dulu ya, lo mau ikut
ga?
Arif : boleh tuh.
Mereka berdua pun
pergi menuju rumah Risky. (selang beberapa menit, tibalah dirumah Risky)
Risky : ayo sini masuk.
Arif : iya.
Risky : langsung ke kamar atas aja ya, gue mau ganti
baju dulu.
Arif : siappppppp….!!!!
Karena arif adalah
salah satu cowo yang pendiam dan irit berbicara kepada lawan jenis, arif
berbicara pun hanya yang penting penting saja. Dan dia hanya ingin diajak
berbicara bukan mengajak berbicara.
Untuk
mempersingkat cerita Desi pun sudah mulai akrab dan sudah bercerita panjang
dengan arif. Bercerita tentang kondisi hatinya yang sedang dilanda perasaan
gelisah atau abg jaman sekarang sering menyebutnya galau. Nah karena posisi desi disini adalah
baru putus dengan kekasihnya, ia mencurahkan perasaan nya kepada si Arif
tentang kegelisahan hatinya ini. Arif juga disini hampir sama dengan desi yakni
jones jomblo ngeness, waah cocok kan. Mereka memberikan uneg-uneg dan saling
memberikan solusi. Makin lama kedekatan
mereka seperti layaknya seseorang yang saling menyukai, saling bertukar fb dan nomer telephone.
Hp desi pun
bergetar
Desi :
nomer siapa ya ini? Kok nelfon?
Awalnya
desi tidak ingin mengangkat telephone nya, karena nomer itu belum dikenal
olehnya. Tetapi karena dia menelpon berkali-kali, desi pun mengangkatnya barang
kali ada sesuatu hal yang penting.
Desi : hallo, ini siapa? Ada perlu apa
telephone?
Misterius : ini gue yang minta nomor lo?
Desi : siapa sih? Kasih tau dong jangan
main rahasiaan gini
Misterius : ini gue arif des, lo lagi apa?
Desi : oh elo toh, gue fikir siapa. Gue
lagi nonton tv aja nih. Lo sendiri?
Arif : Gue sendiri lg duduk ajah des.
Lalu timbul
lah keakraban Desi dan Arif yang berjalan sudah lama. Karena mereka saling
curhat tentang pengalaman pribadi mereka masing masing lama kelamaan mereka
merajut kasih, menganggap bahwa keduanya sudah saling cocok.
Awalnya
Desi sempat tidak yakin dengan Arif, karena sebelumnya Arif sudah menceritakan
tentang masalalunya yang dia cintai. Desi fikir bahwa Arif tidak akan pernah bisa
untuk mencintai Desi, seiring berjalannya waktu fikiran buruk yang sudah
difikirkan oleh Desi ternyata salah besar, Arif ternyata bisa mencintai Desi
lebih dari Arif mencintai kekasihnya yang dulu.
Mereka pun
menjalin cinta, namun hubungan mereka hanya bertahan sampai 2 bulan saja,
tetapi mereka menjalin hubungan atas dasar cinta yakni bukan dengan cara
pacaran tetapi mereka hanya melalui proses pendekatan tanpa status, memang
sakit bertahan dititik yang tidak pasti tetapi sudah seharusnya pacaran itu dilarang
oleh agama. Yang membuat mereka bertahan lama bukan karena pacaran tetapi
mereka hanya dekat tanpa ada status, entah apa yang ada di fikiran arif yang
tidak pernah mau mengajaknya memperbaiki hubungan yang sudah kandas.
Setelah hampir 1 tahun
lamanya Desi pun mulai berfikir untuk pergi meninggalkan arif karena dalam hati
desi terselip kata “untuk apa aku bersamamu tanpa mempunyai status yang jelas?
Jika semua orang menanyakan apa status kita? Aku jawab apa? Selama ini aku
hanya memendam sendirian. Ingin meninggalkan tapi takut tidak ada yang
sepertimu, tetap bertahan tetapi tidak mempunyai status yang jelas” alasan desi
untuk bersamanya yaitukarena arif selalu ada saat ia membutuhkannya. Disaat
orang tua desi mengalami kehancuran dan disaat desi terpuruk karena hal
tersebut arif lah yang selalu setia menemaninya.
Awalnya desi sempat
merasa bahwa hidup ini tidak adil baginya karena ada percekcokan yang
mengakibatkan orang tuanya untuk berpisah, desi sangat terpuruk atas kejadian
itu. Desi sering menangis, dan terpukul atas kejadian tersebut, tetapi takdir
allah tidak bisa dirubah dan apa boleh buat desi pun harus menjalani hari hari
tanpa kasih sayang orang tua, tetapi desi sendiri karena ia masih mempunyai
Arif dan sahabat terdekatnya. Merekalah yang selalu memberikan semangat setiap
harinya


